Jumat, 18 November 2016

Percuma Jujur Tanpa Keberanian



Percuma Jujur Tanpa Keberanian, apa maksudnya? penasaran? simak terus sampai habis ya!. Kata-kata itu saya dapatkan dari kejadian hari ini tadi di sekolah.

Mungkin karena saya kurang beruntung dan lagi apesnya sehingga saya tadi tidak membawa salah satu buku dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan saat itu juga ternyata Guruku meminta untuk mengerjakan LKS. Nah kenapa disini yang disuruh mengerjakan LKS, padahal ada buku paket dan tulis :( Apesssssssssss, saya tidak membawa.

Guru saya ini sepertinya memang pernah mengingatkan kalau tidak membawa salah satu buku maka disuruh untuk lapor terlebih dahulu disaat ia memasuki kelas. Pada saat itu tadi juga, saya punya inisiatif yang sebenarnya baik banget yaitu berkata (lapor) kepada Guru saya bahwa saya tak membawa. Namun sepertinya tidak ada yang tidak membawa selain saya, ahasil gak ngaku lah :(.


Saya sangat lega saat Bu Guru ini berkata, "yang tidak membawa buku LKS, silahkan ditulis di buku tulis agar nialinya tidak kosong". Otomatis dengan begitu saya merasa sudah dimaafkan meski tak lapor atau gini saya merasa tidak dipermasalahkan meski tak membawa buku.

Eh, eh. Wah ternyata saat dikumpulkan Bu Guru mengecek dan terdapat 3 buku tulis. Wow, saya kira cuman saya yang tidak membawa LKS, ternyata ada juga dua teman lainya (laki-laki) yang tidak membawa. Namun apalah, ternyata yang satu sudah lapor *sayagaktaukapan :( dan yang satu dipanggil kedepan bersamaan dengan saya.

Sebenarnya ia(guru) menanyai, "mengapa tidak bilang dari awal?" temanku menjawab, "lupa" dan saya ikut-ikut menjawab begitu. Setelah itu guruku bertanya, "Kalian pengenya ngapain, suapa gak lupa?" temanku menjawab, "terserah". Dan akhirnya

Akhirnya ndasmu....

Kami disuruh push up 30 Kali didepan teman sekelas, dan suruh berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali *APESSSSSSSS.

Nah setelah itu saat aku dan temanku kembali ke kelas, kami tetap belum diperbolehkan duduk di tempat asal dan disuruh duduk di depan. Selang beberapa waktu sambil si Guru ngamok ngamok baru ia mengizinkan kami berdua untuk duduk.

Usai sudah cerita tersebut, namun masih ada beberapa kalimat lagi yang masih termasuk bagian dari apa yang saya tulis diatas.

Meski saya dihukum seperti itu, namun saya masih cukup bangga dengan Guru saya, kenapa?
Sebenarnya jika tidak membawa buku, seharusnya juga kami mendapatkan point (jelek) yang ditulis pada buku khusus laporan sikap. Namun syukurlah guruku tidak ingin juga itu terjadi dan memberi saya pelajaran sedemikian rupa.

Gimana? Percuma banget ya kalau seperti yang saya alami tadi (Punya inisiatif jujur tapi gak berani). Menyesal itu pasti, maka dari itu Kejujuran harus didukung oleh Keberanian dalam mengungkapkanya, lagipula apasih manfaat gak jujur? (apalagi bukan untuk kebaikan). Nah meskipun kamu jujur, tapi dalam melakukanya ragu, itu juga kurang tepat karena yang terjadi apalagi kalo gak malah membuat orang lain juga ragu. Oleh sebab itu juga Berani dan Jujur harus kita tanamkan sejak kini agar menjadi budaya yang baik untuk kedepanya. Teriamakasih.